MOTIVASI PENDIDIKAN
19.09 |
MOTIVASI
BERPRESTASI
Dalam
kehidupan sehari-hari mungkin sering anda saksikan orang-orang yang begitu
aktif dan penuh vitalitas dalam belajar. Bila anda seorang pelajar, akan anda
temukan teman-teman (atau anda sendiri) yang berlainan intensitas dan cara
kerjanya dalam menyelesaikan tugasnya. Ada yang amat giat untuk mencapai
sukses, ada yang sedang-sedang saja, bahkan ada pula yang nampaknya tidak ada
gairah.
Prestasi adalah perilaku yang berorientasi tugas yang mengijinkan
prestasi individu di evaluasi menurut kriteria dari dalam maupun dari
luar, melibatkan individu berkompetensi dengan orang lain. Teori Motivasi
Berprestasi mengemukakan bahwa, manusia pada hakikatnya mempunyai kemampuan
untuk berprestasi diatas kemampuan orang lain. Teori ini memiliki sebuah
pandangan (asumsi) bahwa kebutuhan untuk breprestasi itu adalah suatu yang
berbeda dan dapat dan dapat dibedakan dari kebutuhan-kebutuhan yang lainnya.
Menurut Mc Clelland, seseorang dianggam memiliki motivasi
untuk berprestasi jika ia mempunyai keinginan untuk melakukan suatu karya
berprestasi lebih baik dari prestasi karya orang lain. Ada tiga jenis kebutuhan
manusia menurut Mc Clelland, yaitu kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan untuk
kekuasaan, dan kebutuhan untuk berafiliasi.
Teori mengenai motivasi atau kebutuhan manusia selama ini
mungkin yang lebih Anda kenal adalah teori dari Abraham Maslow dengan hierarki
kebutuhannya. Tapi, sebenarnya ada banyak para ahli dengan pendapat mereka
masing-masing tentang teori motivasi, termasuk David Mc Clelland.
Motif
berprestasi ialah keinginan untuk berbuat sebaik mungkin tanpa banyak
dipengaruhi oleh prestise dan pengaruh sosial, melainkan demi kepuasan
pri-badinya. Mungkin kita tergoda untuk mengetahui faktor-faktor yang membentuk
besar kecilnya atau tinggi-rendahnya motif berpres-tasi pada diri seseorang.
Terbentuknya motif berprestasi amatlah kompleks, sekomplek perkembangan
kepribadian manusia. Motif ini tidak lepas dari perkembangan kepribadian
tersebut, dan tidak pernah berkembang dalam kondisi vakum. Seperti kita
ketahui, betapa besarnya peranan kehidupan keluarga dalam perkembangan
kepribadian individu. Hubungan orang tua-anak sedikit demi sedikit menampakan
pola-pola kepribadian dan kemudian berkembang dengan segala karakteristiknya
mencakup sikap, kebiasaan, cara berfikir, motif-motif, dan sebagainya.
Pada masa di
mana seseorang telah meninggalkan masa kanak-kanak, motif itu dipengaruhi oleh
lingkungan yang lebih luas lagi. Orang tua tidak lagi di-anggap sumber nilai
atau figure ideal (Freud), atau satu-satunya “significant person” (Sullivan),
melainkan nilai-nilai sosial di luar keempat dinding rumah. Di rumah, motif
berprestasi anak bisa dipengaruhi oleh kondisi ekonomi keluarga, pendidikan dan
pekerjaan orang tua, hubungan dengan saudara-saudaranya, dan sebagainya.
Ciri-ciri tersebut dapat
diidentifikasi dari segi kognisi, konasi, dan afeksi/emosi. Dari segi kognisi
dapat dikemukakan sebagai berikut:
CONTOH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( R P P )
16.06 |
RENCANA PELAKSANAAN
PEMBELAJARAN
( R P P )
Nama Sekolah : ..................................
Mata Pelajaran : Ilmu
Pengetahuan Alam
Kelas : VI
(Enam)
Semester : I (Satu)
Alokasi Waktu
:
2 x 45 menit.
A.
Standar Kompetensi
3. Memahami
pengaruh kegiatan manusia terhadap keseimbangan lingkungan.
B. Kompetensi Dasar
3.2
Mengidentifikasi bagian tumbuhan yang sering dimanfaatkan manusia yang mengarah
pada ketidakseimbangan lingkungan.
C. Indikator
·
Menjelaskan penyebab terjadinya
kepunahan pada tumbuhan.
·
Memberi contoh bagian tumbuhan yang
sering dimanfaatkan dan mengarah pada pemusnahan jenisnya ( misalnya kayu jati
dan kayu cendana).
·
Menjelaskan berbagai cara
penanggulangannya, misalnya penanaman tumbuhan kembali dan membudidayakan tumbuhan langkah.
D.
Tujuan
Melalui pengsmatan dan diskusi
peserta didik dapat :
·
Menjelaskan penyebab terjadinya
kepunahan pada tumbuhan.
·
Memberi contoh bagian tumbuhan yang sering
dimanfaatkan dan mengarah pada pemusnahan jenisnya (misalnya kayu jati dan kayu
cendana).
·
Menjelaskan berbagai cara
penanggulangannya, misalnya penanaman tumbuhan kembali dan membudidayakan
tumbuhan langkah.
MODEL PEMBELAJARAN TERPADU
16.38 |
Pendidikan diartikan sebagai usaha sadar yang dilakukan oleh manusia untuk
meningkatkan kualitas diri sehingga menjadi insan-insan yang mampu membangun
dirinya sendiri, agama, bangsa, dan negaranya. Secara lebih spesifik,
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. UU Sisdiknas menegaskan bahwa
pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan,
peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk
menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal,
nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara
terencana, terarah, dan berkesinambungan;
Berbicara tentang kualitas pendidikan, tentu haruslah memiliki tolak ukur
yang jelas. Salah satu tolak ukur meningkatnya mutu pendidikan yaitu dengan
terjadinya peningkatan kualitas standar kelulusan siswa, sebagai output
pendidikan yang diikuti dengan pembuktian bahwa siswa memiliki kemampuan
bersaing dalam memperebutkan peluang dunia kerja, memiliki eksistensi
kepemimpinan di tengah-tengah masyarakat yang majemuk, serta mampu membawa
perubahan ke arah yang lebih baik. Bahkan lebih jauh dari itu, setiap lulusan
hendaknya tidak hanya mampu bersaing dalam memperebutkan bursa dunia kerja,
tetapi mampu menciptakan atau membuka lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri
dan orang lain.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, pemerintah sudah menetapkan Standar
Kompetensi Lulusan (SKL) yang diukur melalui pelaksanaan Ujian Nasional dengan
standar nilai yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun perlu pula
diingat oleh semua pihak bahwa mutu pendidikan sangat bergantung pada kualitas
proses pendidikan, tidak hanya memperhatikan kualitas output atau semakin
tingginya batas nilai minimal kelulusan secara terpisah. Justru hasil yang baik
akan diperoleh jika didahului perencanaan dan proses yang baik pula. Sebab
sesuatu tidak akan tercipta tanpa adanya sebuah proses penciptaannya.
Kesalahan cara pandang sebagian besar masyarakat dalam menentukan
berkualitas tidaknya pendidikan yang hanya berorientasi pada hasil pendidikan
tinggi, harus segera dibenahi. Ibarat membuat gedung bertingkat, bagus tidaknya
struktur bangunan tidak bisa hanya ditentukan oleh bagian gedung paling atas
saja tetapi ditentukan oleh keseluruhan struktur gedung, mulai dari pondasi
sampai bagian gedung paling atas. Artinya, siapapun, termasuk pemerintah harus
memberikan perhatian yang seimbang kepada setiap jenjang pendidikan, terutama
jenjang Sekolah Dasar (SD) dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan secara
umum. Sekolah Dasar (SD) sebagai lembaga pendidikan formal paling bawah sudah
selayaknya mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak mengingat Sekolah
Dasar memegang peranan yang sangat penting dalam upaya menciptakan dasar
(pondasi) yang kokoh dan berkualitas sebagai dasar menciptakan kualitas
pendidikan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Langganan:
Postingan (Atom)





